1.
Partus presipitatus
Partus presipitatus adalah persalinan berlangsung sangat cepat. Penyebabnya
adalah abnormalitas tahanan yang rendah pada bagian jalan lahir, abnormalitas
kontraksi uterus dan rahim yang terlalu kuat. Akibat bagi ibu dapat menimbulkan
rupture uteri atau laserasi yang luas pada serviks, vagina, vulva atau
perineum. Akibat pada bayi , akan terjad mortalitas dan morbiditas perinatal
akibat partus presipatatus
a.
Tanda dan Gejala
Dapat mengalami ambang nyeri yang tidak biasanya atau tidak menyadari
kontraksi abdominal. Kemungkinan tidak ada kontraksi yang dapat diraba, bila
terjadi pada ibu yang obesitas. Ketidaknyamanan punggung bagian bawah (tidak
dikenali sebagai tanda kemajuan persalinan). Kontraksi uterus yang lama/hebat,
ketidak-adekuatan relaksasi uterus diantara kontraksi. Dorongan invalunter
lintula mengejan (Doenges, 2001).
b.
Penanganan
Kontraksi uterus spontan yang kuat dan tidak lazim, tidak mungkin dapat
diubah menjadi derajat kontraksi yang bermakna oleh pemberian anastesi. Jika
tindakan anastesi hendak dicoba, takarannya harus sedemikian rupa sehingga
keadaan bayi yang akan dilahirkan itu tidak bertambah buruk dengan pemberian
anastesi kepada ibunya. Penggangguan anastesi umum dengan preparat yang bisa
mengganggu kemampuan kontraksi rahim, seperti haloton dan isofluran, seringkali
merupakan tindakan yang terlalu berani. Tentu saja, setiap preparat oksitasik
yang sudah diberikan harus dihentikan dengan segera. Preparat tokolitik,
seperti ritodrin dan magnesium sulfat parenteral, terbukti efektif. Tindakan
mengunci tungkai ibu atau menahan kepala bayi secara langsung dalam upaya untuk
memperlambat persalinan tidak akan bisa dipertahankan. Perasat semacam ini
dapat merusak otak bayi tersebut. (Sarwono, 2005).
2. Prolaps tali
pusat
Tali
pusat mungkin terdapat di dalam tonjolan cairan amnion, atau dikatakan
presentasi tali pusat (tali pusat terkemuka), atau mungkin mengalami prolaps
dan berada di depan bagian presentasi janin setelah membran ruptur (dikatakan
penumbungan tali pusat). Yang menjadi masalah pada prolaps tali pusat adalah
tali pusat terletak di jalan lahir di bawah bagian presentasi janin, dan tali
pusat terlihat pada vagina setelah ketuban pecah.
Tali
pusat lebih mungkin mengalami prolaps jika ada sesuatu yang mencegah bagian
presentasi janin di segmen bawah uterus atau penurunannya ke dalam panggul ibu.
Presentasi tali pusat jarang terdiagnosis, sehingga memerlukan pemeriksaan yang
teliti. Pemeriksaan ini harus dilakukan pada semua kasus persalinan, seperti
pada persalinan preterm atau jika terdapat malpresentasi atau malposisi janin.
Prolaps tali pusat lebih sering terjadi jika tali pusat panjang dan jika
plasenta letak rendah.
a.
Pembagian Prolaps Tali Pusat
1)
Tali pusat menumbung disebut juga
prolapsus funikuli adalah jika tali pusat teraba keluar atau berada di samping
dan melewati bagian terendah janin di dalam jalan lahir, tali pusat dapat
prolaps ke dalam vagina atau bahkan di luar vagina setelah ketuban pecah.
2)
Tali pusat terdepan disebut juga
tali pusat terkemuka yaitu jika tali pusat berada di samping bagian besar janin
dapat teraba pada kanalis servikalis, atau lebih rendah dari bagian bawah janin
sedang ketuban masih intak atau belum pecah.
Bahaya
terbesar pada presentasi kepala, karena setiap saat tali pusat dapat terjepit
antara bagian terendah janin dengan jalan lahir dapat mengakibatkan gangguan
oksigenasi janin. Pada tali pusat terdepan, sebelum ketuban pecah, ancaman
terhadap janin tidak seberapa besar, tetapi setelah ketuban pecah, bahaya
kematian janin sangat besar.
b. Penanganan
Selama janin masih hidup dan dapat bertahan hidup,
oksigen diberikan kepada ibu dan bagian presentase janin dtnggiikan dengan
tangan d dalam vagina untuk mencegah kompres tali pusat. Pasien segera
diitempatkan pada posisi Trendelenburg atau posisi knee chest . tidak dilakukan
usaha untuk mreposisi tal pusat, kecuali servk dlatasi sempurna, hasil yang
terbaik akan diperoleh dengan seksio sesarea segera, selama detak jantung janin
baik.
3.
Distosia bahu
Distosia bahu ialah kelahiran kepala janin dengan bahu anterior macet
diatas sacral promontory karena itu tidak bisa lewat masuk ke dalam panggul,
atau bahu tersebut bisa lewat promontorium, tetapi mendapat halangan dari
tulang sacrum (tulang ekor). Lebih mudahnya distosia bahu adalah peristiwa
dimana tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin
dilahirkan.
a.
Patofisiologi
Setelah kelahiran kepala, akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan
kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akan
berada pada sumbu miring (oblique) di bawah ramus pubis. Dorongan pada saat ibu
meneran akan meyebabkan bahu depan (anterior) berada di bawah pubis, bila bahu
gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap
berada pada posisi anteroposterior, pada bayi yang besar akan terjadi benturan
bahu depan terhadap simfisis sehingga bahu tidak bisa lahir mengikuti kepala.
b. Etiologi
Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul, kegagalan bahu
untuk “melipat” ke dalam panggul (misal : pada makrosomia) disebabkan oleh fase
aktif dan persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga penurunan
kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan
lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah mengalami
pemanjangan kala II sebelah bahu berhasil melipat masuk ke dalam panggul.
c. Penilaian
Klinik
1. Kepala janin telah lahir namun
masih erat berada di vulva
2. Kepala bayi tidak melakukan
putaran paksi luar
3. Dagu tertarik dan menekan
perineum
4. Tanda kepala kura-kura yaitu
penarikan kembali kepala terhadap perineum sehingga tampak masuk kembali ke
dalam vagina.
5. Penarikan kepala tidak berhasil
melahirkan bahu yang terperangkap di belakang symphisis.
d. Deteksi dini
distosia bahu harus diantisipasi jika
ada berbagai temuan atau kondisi berikut:
1.
Riwayat obstetrik adanya
bayi besar
2.
Kelahiran melewati tanggal
kelahiran yang telah ditentukan
3.
Janin besar, ditentukan dengan palpasi atau
diagnosa adanya makrosomia
4.
Adanya kesulitan dalam
kelahiran pada riwayat obstetrik
5.
Disproporsi sefalopelvik
6.
Kala 2 persalinan yang lama
e.
Penanganan
1.
Membuat episiotomi yang cukup luas untuk
mengurangi obstruksi jaringan lunak dan memberi ruangan yang cukup untuk
tindakan.
2.
Meminta ibu untuk menekuk kedua
tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya dalam posisi
ibu berbaring terlentang. Meminta bantuan 2 asisten untuk menekan fleksi kedua
lutut ibu ke arah dada.
3.
Dengan memakai sarung tangan yang telah
didisinfeksi tingkat tinggi:
- Melakukan tarikan yang kuat dan terus-menerus ke arah bawah pada kepala janin untuk menggerakkan bahu depan dibawah simfisis pubis. Catatan : hindari tarikan yang berlebihan pada kepala yang dapat mengakibatkan trauma pada fleksus brakhialis.
- Meminta seorang asisten untuk melakukan tekanan secara simultan ke arah bawah pada daerah suprapubis untuk membantu persalinan bahu. Catatan: jangan menekan fundus karena dapat mempengaruhi bahu lebih lanjut dan dapat mengakibatkan ruptur uteri.
- Melakukan tarikan yang kuat dan terus-menerus ke arah bawah pada kepala janin untuk menggerakkan bahu depan dibawah simfisis pubis. Catatan : hindari tarikan yang berlebihan pada kepala yang dapat mengakibatkan trauma pada fleksus brakhialis.
- Meminta seorang asisten untuk melakukan tekanan secara simultan ke arah bawah pada daerah suprapubis untuk membantu persalinan bahu. Catatan: jangan menekan fundus karena dapat mempengaruhi bahu lebih lanjut dan dapat mengakibatkan ruptur uteri.
4.
Jika bahu masih belum dapat dilahirkan :
- Pakailah sarung
tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi, masukkan tangan ke dalam vagina.
- Lakukan penekanan
pada bahu yang terletak di depan dengan arah sternum bayi untuk memutar bahu
dan mengecilkan diameter bahu.
- Jika diperlukan, lakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan arah sternum.
- Jika diperlukan, lakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan arah sternum.
5.
Jika bahu masih belum dapat dilahirkan:
- Masukkan tangan ke
dalam vagina.
- Raih humerus dari
lengan belakang dan dengan menjaga lengan tetap fleksi pada siku, gerakkan
lengan ke arah dada. Ini akan memberikan ruangan untuk bahu depan agar dapat
bergerak dibawah simfisis pubis.
6.
Jika semua tindakan di atas tetap tidak dapat
melahirkan bahu, pilihan lain:
- Patahkan klavikula
untuk mengurangi lebar bahu dan bebaskan bahu depan.
- Lakukan tarikan dengan mengait
ketiak untuk mengeluarkan lengan belakang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar