Kamis, 20 September 2012

Calcium supplements linked to MI, kidney stones

-Yen Yen Yip-
The safety of calcium supplements has come under further scrutiny as recent reports suggest they may be linked with higher risks of myocardial infarction (MI) and kidney stones.

“Calcium supplements have been widely embraced by doctors and the public on the grounds that they are a natural and therefore safe way of preventing osteoporotic fractures,” wrote Professor Ian Reid and Dr. Mark Bolland from the Faculty of Medical and Health Sciences, University of Auckland, Auckland, New Zealand, in an editorial in a recent issue of Heart journal. [Heart 2012;98:895-896]

The editorial accompanied a study linking calcium supplements to an increased risk of heart attacks. [Heart 2012;98:920-925] The European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) study, led by researchers based in Heidelberg, Germany, assessed calcium intake through the diet and supplements of close to 24,000 subjects for about 11 years.

The results showed that subjects who took calcium supplements regularly were 86 percent more likely to have a heart attack than those who did not take any supplements. “Calcium supplements, which might raise MI risk, should be taken with caution,” concluded lead author Dr. Kuanrong Li from the Division of Cancer Epidemiology, German Cancer Research Center, Heidelberg, Germany, and colleagues.

The study also evaluated subjects whose calcium intake came from dietary sources.

Those who took a moderate amount of calcium through their diet (820 mg per day), instead of supplementation, were about 30 percent less likely to suffer a heart attack compared with those who took less dietary calcium (513 mg per day). Interestingly, those who included more than 1,100 mg of calcium in their daily diet did not observe a lowered risk of heart attack.

In contrast to past research, the EPIC study did not show an association between higher calcium intake and reduced CV and stroke risk, or overall CV mortality.

The safety of calcium supplements has come into question, said Reid and Bolland.

“It is now becoming clear that taking this micronutrient in one or two daily [doses] is not natural, in that it does not reproduce the same metabolic effects as calcium in food.

“We should return to seeing calcium as an important component of a balanced diet, and not as a low cost panacea to the universal problem of postmenopausal bone loss.”

In a separate study, high doses of calcium and vitamin D supplements were shown to cause higher rates of hypercalciuria and hypercalcemia in 163 postmenopausal women with vitamin D insufficiency.

The study, presented at the 2012 Annual Meeting of The Endocrine Society in Houston, US, randomized the women to vitamin D doses ranging from 400 IU to 4,800 IU per day, and calcium from 1,200 mg to 1,400 mg daily, over a year. Blood and urinary calcium levels were measured at baseline and every 3 months during the year-long study period.

The investigators found that about one in three subjects (33 percent) experienced hypercalciuria, defined as urinary calcium levels greater than 300 mg in a 24-hour urine calcium test. Hypercalcemia was also identified in about one in 10 subjects (10 percent).

Given that both events are known to contribute to the risk of kidney stones, lead study investigator Professor Christopher Gallagher, director of the Bone Metabolism Unit at Creighton University Medical Center, Nebraska, US, has suggested that clinicians should monitor the blood and urine calcium levels of patients who take calcium and vitamin D supplements on a long-term basis.  MedicalTribune

Senin, 17 September 2012

kasus2 komplikasi&kegawatdaruratan intrapartum-postpartum (part-end)


1.      Partus presipitatus
Partus presipitatus adalah persalinan berlangsung sangat cepat. Penyebabnya adalah abnormalitas tahanan yang rendah pada bagian jalan lahir, abnormalitas kontraksi uterus dan rahim yang terlalu kuat. Akibat bagi ibu dapat menimbulkan rupture uteri atau laserasi yang luas pada serviks, vagina, vulva atau perineum. Akibat pada bayi , akan terjad mortalitas dan morbiditas perinatal akibat partus presipatatus
a.    Tanda dan Gejala
Dapat mengalami ambang nyeri yang tidak biasanya atau tidak menyadari kontraksi abdominal. Kemungkinan tidak ada kontraksi yang dapat diraba, bila terjadi pada ibu yang obesitas. Ketidaknyamanan punggung bagian bawah (tidak dikenali sebagai tanda kemajuan persalinan). Kontraksi uterus yang lama/hebat, ketidak-adekuatan relaksasi uterus diantara kontraksi. Dorongan invalunter lintula mengejan (Doenges, 2001).

kasus komplikasi&kegawatdaruratan intrapartum-postpartum (part3)


1.      Disproporsi Sefalopelvik (CPD)
Merupakan disproporsi antara ukuran janin dengan ukuran panggul dimana bentuk panggul tidak cukup lebar untuk mengakomodasi keluarnya anin pada kelahiran per vagina. CPD dibuktikan dengn adanya disfungsional persalinan, fleksi kepala yang tidak sempurna atau henti rotasi internal dan penurunn dan dapat dengan atau tanpa disertai dan molding (Varney, dkk, 2002).

kasus2 komplikasi&kegawatdaruratan intrapartum-postpartum (part2)


1.      Amnionitis dan korioamnionitis
a.         Tanda gejala:
1)   Demam maternal
2)   Takikardi maternal
3)   Takikardi janin
4)   Nyeri tekan uterus
5)   Peningkatan suhu vagina (lebih hangat bila disentuh)
6)   Cairan amnion berbau busuk

kasus2 komplikasi&kegawatdaruratan intrapartum-postpartum (part1)


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Komplikasi intrapartal
1.    Persalinan prematur
Adalah persalinan yang terjadi setiap saat setelah usia gestasi mencapai 20 minggu atau menjelang akhir minggu ke-37 (Varney, dkk.2002).
a.         Tanda dan gejala:
1)   Nyeri menstruasi (seperti kram) yang sulit dibedakan dengan nyeri sekitar ligamen.
2)   Nyeri di punggung (berbeda dengan nyeri punggung yang biasa dialami oleh wanita hamil.
3)   Nyeri pada suprapubik atau tekanan (sulit dibedakan dengan UTI).
4)   Rasa berat dan tekanan pada panggul.
5)   Perubahan karakter atau jumlah rabas dari vagina (kental, encer, mengandung air, bercampur darah, kecoklatan, pucat).
6)   Diare.
7)   Kontraksi uterus yang tidak dapat dipalpasi (dengan atau tanpa nyeri) terasa setiap 10 meit atau lebih sering, selama 1 jam atau lebih, tidak sembuh dengan berbaring.
8)   Ketuban pecah dini

kasus2 komplikasi & kegawatdaruratan intrapartum-postpartum


BAB I
PENDAHULUAN

Menurut International Statistical Classification of Disease and Related Health Problems, Edition X (ICD X), kematian maternal adalah “kematian wanita yang terjadi selama kehamilan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa melihat usia dan lokasi kehamilan, oleh setiap penyebab yang berhubungan dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya tetapi bukan oleh kecelakaan atau incidental (faktor kebetulan)” (WHO, 2007).
Kematian maternal adalah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan, oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan. Penyebab utama kematian maternal dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu: (WHO, 2007).

Kamis, 06 September 2012

studi kelayakan usaha (kewirausahaan)

buat yang mau ngerjain tugas KWH...tugasnya adalah: lakukan studi kelayakan untuk usaha yang ingin anda buat!
ini contohnya,,,ada di link ini: http://paryonoklaten.files.wordpress.com/2012/06/analisis-studi-kelayakan-usaha.pdf
untuk bahannya (ppt seperti dikelas) nggak ada diblognya papiyon...dan setelah aku tanyakan, beliau bilang besok akan diposting ulang...terimakasih :D

tugas dikumpulkan hari selasa (hardcopy ya...tapi softcopynya tetep disiapin)

selamat mengerjakan tugas :)