Senin, 17 September 2012

kasus komplikasi&kegawatdaruratan intrapartum-postpartum (part3)


1.      Disproporsi Sefalopelvik (CPD)
Merupakan disproporsi antara ukuran janin dengan ukuran panggul dimana bentuk panggul tidak cukup lebar untuk mengakomodasi keluarnya anin pada kelahiran per vagina. CPD dibuktikan dengn adanya disfungsional persalinan, fleksi kepala yang tidak sempurna atau henti rotasi internal dan penurunn dan dapat dengan atau tanpa disertai dan molding (Varney, dkk, 2002).

a.       Indikasi:
1)      Besar janin berlebihan
2)      Tipe tubuh wanita secara umum: bahu lebih lebar dari pinggul, bertubuh pendek, tangan dan kaki lebar, pendek
3)      Riwayat fraktur pada panggul
4)      Deformitas spinal, misalnya skoliosi, lordosis dan kifosis
5)      Pincang unilateral atau bilateral
6)      Deformitas ortopedik misal penyakit kekurangan vitamin D
7)      Malpresentasi
b.      Seluruh wanita dengan henti persalinan harus dievaluasi adanya CPD:
1)      Palpasi abdomen untuk mengetahui letak, presentasi, posisi, fleksi, engagement, TBJ
2)      Kaji kontraksi uterus dalam hal frekuensi, durasi, intensitas, da perubahan setelah persalinan awal; disfungsional persalinan biasanya tampak pada CPD
3)      Pemeriksaan panggul untuk menentukan posisi bagian presentasi, engagement, derajat fleksi, formsi kaput, molding, perkembangan dilatasi, penurunan
4)      Pelvimetri klinis
c.       Manajemen
Manajemen pada CPD yang masih diduga adalah sebagai berikut:
1)      Perubahan posisi maternal
2)      Pecahkan ketuban
3)      Istirahat dan hidrasi ibu
4)      Lakukan rotasi manual terhadap kepala janin untuk mengubah posisi kepala

2.      Kelelahan maternal (Distres maternal: ketoasidosis)
a.       Tanda dan gejala
1)      Riwayat
a)   Kelelahan, apatis dan ansietas
b)   Persalinan yang lama
c)   Dehidrasi (bibir dan mulut kering, kerongkongan panas dan kering)
2)      Fisik
a)      Ibu lemah
b)      Denyut nadi meningkat
c)      Suhu meningkat
d)     Pucat
e)      Muntah
3)      Nilai laboratorium
a)      Konsentrasi urin
4)      Manajemen:
a)      Pencegahan adalah cara yang terbaik
b)      Koreksi ketidakseimbangan cairan/elektrolit
c)      Konsultasi sehubungan dengan panjang abnormal fase persalinan

3.      Persalinan lama
Partus lama atau partus macet menyebabkan kurang lebih 8% kematian maternal. Keadaan ini sering merupakan akibat dari disproporsi sefalopelvik (bila kepala janin tidak dapat melewati pelvis ibu) atau akibat
letak abnormal (bila janin tidak dalam posisi yang benar untuk dapat melalui jalan lahir ibu).
Masalah: fase laten lebih dari 8 jam, persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih bayi belum lahir, dilatasi servik di kanan garis waspada pada persalinan fase aktif.
a.       Persalinan lama dapat disebabkan oleh:
1)      His tidak efisien
2)      Faktor janin (malpresentasi, malposisi, janin besar)
3)      Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan servik, tumor)
Faktor-faktor ini sering saling berhubungan (YBP-SP, 2007)
b.      Tanda dan gejala klinis
Tanda dan gejala klinis
Diagnosis
Pembukaan servik tidak melewati 3 cm sesudah 8 jam in partu
Prolonged latent phase
Pembukaan servik melewati garis waspada partograf:
§  Frekuensi dan lamanya kontraksi kurang dari 3 kontraksi per 10 menit dan kurng dari 40 detik
§  Secondary arrest of dilatation
§  Secondary arrest of dilatation dan bagian terendah degan kaput, terdapat moulase, edema servik, tanda ruptura uteri iminen, fetal dan maternal distress
§  Kelainan presentasi


§  Inersia uteri


§  CPD
§  Obstruksi




§  Malpresentasi
Pembukaan servik lengkap, ibu ingin mengedan, tetapi tidak ada kemajuan penurunan
Kala II lama


c.       Penanganan:
1)      Fase aktif memanjang
a)      Berikan penanganan umum yang kemungkinan akan memperbaiki kontraksi dan mempercepat kemajuan persalinan
b)      Pecahkan ketuban
Bila kontraksi uterus adekuat, pertimbangkan adanya kemungkinan CPD, obstruksi, malposisi, atau malpresentasi
2)      Obstruksi
a)      Bayi hidup dilahirkan dengan SC
b)      Bila mati lahirkan dengan kraniotomi
3)      Inersia uteri
a)      Lakukan induksi dengan oksitosin 5 unit dalam 500 cc dekstrosa (atau NaCl) atau prostaglandin
b)      Evaluasi ulang dengan VT setiap 4 jam:
                                                                    i.            Bila garis tindakan dilewati lakukan SC
                                                                  ii.            Bila ada kemajuan evaluasi setiap 2 jam
4)      Kala II memanjang
a)      Berikan oksitosin drip.
b)      Bila pemberian oksitosin drip tidak ada kemajuan dalam 1 jam, lahirkan dengan bantuan vakum atau forseps bila persyaratan dipenuhi.
c)      Lahirkan dengan SC bila persyaratan vakum dan forseps tidak dipenuhi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar